Senin, 18 Januari 2016

Tiara Bukan Ilusi

0

19 January 2014, aku bertatap muka dengan wanita yang sosoknya ada didalam imajinasi kriteria wanita idamanku.

Ketika itu waktu menunjukkan pukul 15.00, aku duduk sendiri didalam sebuah Cafe dikursi yang cukup untuk 2 orang, ketika cafe tersebut telah penuh oleh pelanggan. Dalam benakku mungkinkah aku menemukan ketenangan disini. Pada saat itu juga aku melihat dari bilik jendela disamping ku duduk tampak seseorang wanita yang sedang kebingungan mencari tempat untuk duduk.

Wanita tersebut memakai baju putih yang tampak membuat dia bercahaya, setelah memasuki cafe tersebut dia langsung berjalan menghampiriku. Aku terkejut.. dia menyapaku dan bertanya "Boleh duduk disini mas?" katanya. Aku merespon dengan terbata-bata "Boo..le..h mba" kataku kepadanya.

Ketika dia duduk aku tak berani memandang wajahnya yang bercahaya sama sekali, mengapa? mengapa aku tak berani? tanyaku kepada diriku sendiri. 30 menit berselang aku pun cuman fokus ke handphone yang kupunya dan sesekali aku memperhatikan dia dengan laptopnya.

Kucoba memberanikan diri dan bertanya, "Mba lagi ngerjain apa?" kataku.
"Ini loh mas tugas dari dosen tapi kok internetnya ga bisa ya dari tadi" katanya kepadaku, aku dengan sikap yang sok cuek dan sok tahu menjawab dengan singkat "Kayaknya lagi gangguan deh wifi-nya", "Ga mas, soalnya di Handphone ku bisa connect tapi ke Laptopku kok ga bisa ya" katanya.

Aku memindahkan kursi ku kesampingnya... "Sini mba laptopnya biar saya liat" kataku.
"Emang mas nya bisa??" dia berkata sambil bercanda. "Engga bisa sih tapi dicoba-coba dulu kali aja bisa" kataku balik bercandain dia. Dengan modal pengetahun pas-pasan aku mencoba mengotak-atik laptop tersebut dan kucoba ganti IP address dan DNS di laptop tersebut, ternyata Wifi cafe tersebut berhasil kubuat connect ke laptopnya.

"Wihhhhh... masnya jago juga ya" dia tersenyum. "Engga kok cuman beruntung doang kayaknya" aku tersipu malu. Dalam selang waktu 10 menit kami berbicara dan mulai mengenalkan nama. Aku terkejut ketika dia mengenalkan namanya. Namanya Tiara yang berarti "Wanita bermahkotakan permata" kataku dalam hati. Setelah aku berkenalan dan bercakap-cakap kurang lebih 1jam ternyata Tiara orangnya asik dan enak diajak berteman.

1 Minggu setelah mengenal Tiara.. aku ke Cafe tersebut lagi, Niatku mungkin aku bisa bertemu dengan Tiara disini. Entah kenapa feelingku berkata "Tiara pasti datang hari ini", Ku tunggu selama beberapa jam Tiara tak kunjung datang juga.

Waktu pun berlalu dengan cepat, tak terasa sudah 1 Bulan aku tak bertemu dengan Tiara. Aku penasaran apa yang terjadi kepada Tiara. "Apakah Tiara baik-baik saja?" gelisahku dalam hati. Aku mencoba mencari-cari dimana Tiara itu berada, dan seketika aku mengingat bahwa dia adalah seorang Mahasiswi dan sempat ku lihat dimana dia kuliah.

Aku mencoba.. dan terus mencoba mencari dia di salah satu universitas ternama di Kotaku. Dan aku bertanya kepada salah satu dosen di Universitas tersebut. Dan aku tak menemukan satu jawaban pun tentang Tiara, kadang aku bertanya kepada diriku sendiri "Apakau Tiara hanya sosok idamanku yang berada dalam imajinasiku?" menggerutuku didalam hati. Kegelisahan mulai menyelimutiku, walaupun hanya sekali bertemu dan beberapa jam bicara sama dia entah kenapa aku langsung mempunyai perasaan kepada dia. "Bodohnya aku.. Kenapa aku tak tukeran contact biar aku bisa menghubungi dia kapanpun dan dimanapun" kataku meringis.

6 Bulan berlalu.. sosok Tiara pun yang dulu aku cari-cari kini telah dapat kulupakan. Masih ditempat yang sama dengan kesendirianku, aku menghibur diriku dengan membentuk sebuah band yang dulunya aku impikan. Disalah satu event ketika bandku perform entah kenapa di backstage aku bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan sosok yang dulunya aku kenal yaitu Tiara. Aku mengabaikan dia karna ku pikir itu bukanlah Tiara yang dulu ku kenal.

Hari demi hari aku fokus kepada karirku, 1 Tahun sejak aku membentuk sebuah Band, aku cukup tenar di Kotaku. Sebagai penulis lagu di bandku, aku sering meluapkan isi hatiku di lirik-lirik lagu yang ku tulis. Dan sempat terpikirkan olehku untuk membuat Lagu yang berjudul Tiara. Selesainya laguku yang berjudul Tiara, mendapat respon baik di masyarakat kotaku.

"Aku harus berterimakasih kepada Tiara" kataku, dan teman satu bandku bertanya dimana aku mendapat inspirasi untuk membuat lagu yang berjudul Tiara itu. Aku pun menceritakan ketemanku tersebut.

Dia tertawaaaa.. menertawakan ceritaku, mungkin aku bodoh sampai sekarang aku tak serasa tak ingin punya pendamping dikarenakan dulu aku hanya mencari sosok Tiara yang kujumpai hanya sekali dan berbicara kedia beberapa jam. Tapi aku yakin sosok Tiara itu bukan ilusi dan imajinasiku.

Bandku pun melakukan tour dari kota ke kota lain. Sesampainya disalah satu kota, aku pun sudah mampu tersenyum ternyata Tiara yang dulunya menurutku hanya imajinasiku saja, sekarang muncul dihadapanku dengan wajah yang membuatku mengingat akan kesan pertama kaliku bertemu.

Aku terkejut ternyata Tiara yang dulu masih mengingatku, dia pun langsung berkata kepadaku "Emang mas nya bisa??" sambil tertawa. Aku langsung respon menjawab "Engga bisa sih tapi dicoba-coba dulu kali aja bisa" sambil bersalaman kedia.

Bulan ketiga setelah aku bertemu dan bercakap dengan Tiara yang keduanya kalinya, Aku dengan Tiara sudah menjalin hubungan 2 bulan bersama. Kami berdua berbagi cerita, dan aku menceritakan betapa bodohnya diriku yang dulu karena aku tak mampu menemui Tiara sekalipun. Dan terkejutnya aku ternyata dulu Tiara sering melihatku di jalan yang berlawanan dari dia dan dia sering ingin menyapa tapi dikejar deadline tugas akhir dari dosen jadi tak sempat memutar arah untuk menyapaku.

Tiara juga sering ke Cafe pertama kali kami bertemu, ketika aku ke Cafe tersebut ternyata dia belum datang tetapi setelah aku meninggalkan Cafe tersebut dia datang dan sering melihatku dengan wajah gelisah di tempat parkir ketika mau balik dan Tiara pun enggan menggangguku menurut dia aku lagi punya masalah pribadi. Seandainya aku lebih menghargai dan rela menunggu Waktu mungkin aku tak perlu repot-repot untuk bertemu Tiara.

19 January 2016 sama seperti tanggal pertama aku bertemu dengan Tiara, adalah hari yang aku tunggu dimana aku mengadakan pesta pernikahan bersama Tiara sosok yang dulunya aku cari-cari dan sempat ku berpikir dia hanya ilusi imajinasiku belaka.

Note :
"Tak ada salahnya untuk menunggu waktu dan jangan tergesa-gesa untuk mengambil suatu keputusan" 

"Hargai waktumu bersama-nya, siapa tau itu adalah hari pertama dan terakhir kalian bertemu"

"Percayalah, jika menurut tuhan dia adalah jodohmu kejar dia" 

0 komentar:

Posting Komentar